10 Contoh Payment yang Umum Digunakan oleh Bisnis di Indonesia

10 Contoh Payment yang Umum Digunakan oleh Bisnis di Indonesia
Photo by Jonas Leupe / Unsplash

Contoh payment mencakup berbagai metode pembayaran yang digunakan dalam transaksi sehari-hari maupun aktivitas bisnis.

Seiring perkembangan teknologi, sistem pembayaran kini tidak hanya berbentuk uang tunai, tetapi juga transfer bank, QRIS, e-wallet, kartu debit/kredit, hingga pembayaran otomatis. 

Memahami berbagai contoh payment penting agar Anda dapat memilih metode yang paling efisien, aman, dan sesuai dengan kebutuhan.

Bagi bisnis, pilihan payment yang tepat juga berpengaruh terhadap kelancaran operasional dan kepuasan pelanggan.

Berikut penjelasan lengkap mengenai contoh payment beserta penerapannya dalam berbagai situasi.

Apa Itu Payment?

Payment adalah proses pemindahan sejumlah nilai atau dana dari satu pihak ke pihak lain sebagai bentuk penyelesaian transaksi atas barang atau jasa.

Dalam konteks ekonomi modern, payment tidak lagi terbatas pada uang tunai, tetapi mencakup berbagai metode seperti transfer bank, kartu debit/kredit, dompet digital, hingga sistem berbasis QR

Secara sederhana, setiap kali seseorang membeli produk di toko, membayar tagihan listrik, atau melakukan transaksi di e-commerce, ia sedang melakukan payment.

Di era digital, payment menjadi komponen penting dalam ekosistem bisnis karena berperan langsung dalam arus kas dan pengalaman pelanggan.

Proses pembayaran yang cepat, aman, dan mudah dapat meningkatkan kepuasan pelanggan serta mempercepat perputaran dana bagi penjual.

Sebaliknya, sistem payment yang lambat atau rumit dapat menyebabkan transaksi batal dan berdampak pada penurunan pendapatan.

Payment bekerja dengan cara:

  • Inisiasi transaksi. Pembeli memilih metode pembayaran yang tersedia, seperti transfer bank, QR, kartu, atau e-wallet.
  • Otorisasi pembayaran. Sistem akan memverifikasi kecukupan saldo atau limit serta mengonfirmasi identitas pengguna untuk memastikan transaksi valid.
  • Proses clearing dan settlement. Dana diproses melalui jaringan bank atau penyedia layanan pembayaran sebelum akhirnya diteruskan ke rekening penjual.
  • Konfirmasi transaksi. Setelah berhasil, kedua pihak menerima notifikasi bahwa pembayaran telah selesai.
  • Pencatatan dan rekonsiliasi. Transaksi dicatat dalam sistem untuk keperluan laporan keuangan, monitoring, dan audit.

Contoh Payment

Dalam praktiknya, payment dapat dibedakan menjadi dua kategori utama, yaitu pembayaran non-tunai (cashless) dan pembayaran tunai.

Perkembangan teknologi telah membuat metode non-tunai semakin populer karena dinilai lebih cepat, praktis, dan aman.

Namun, pembayaran tunai tetap digunakan dalam berbagai situasi, terutama pada transaksi skala kecil atau di wilayah dengan akses digital yang terbatas.

Berikut adalah beberapa contoh payment yang umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

1. Contoh Payment Non-Tunai (Cashless)

Pembayaran non-tunai adalah metode transaksi yang tidak menggunakan uang fisik secara langsung.

Dana berpindah secara digital melalui sistem perbankan atau penyedia layanan pembayaran.

Transfer Bank

Transfer bank merupakan salah satu contoh metode payment non-tunai paling umum.

Dalam metode ini, pembeli mengirimkan dana dari rekeningnya ke rekening penjual melalui ATM, internet banking, atau mobile banking. Transfer bisa dilakukan antar rekening dalam satu bank maupun lintas bank.

Saat ini, transfer bank juga semakin praktis dengan adanya layanan real-time transfer antarbank yang memungkinkan dana diterima dalam hitungan detik.

Metode ini sering digunakan untuk pembayaran belanja online, pembayaran tagihan, hingga transaksi bisnis dalam jumlah besar.

QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard)

QRIS adalah standar kode QR nasional yang dikembangkan oleh Bank Indonesia untuk menyatukan berbagai metode pembayaran berbasis QR dalam satu sistem.

Dengan QRIS, pembeli cukup memindai satu kode QR menggunakan aplikasi mobile banking atau e-wallet untuk melakukan pembayaran.

Metode ini banyak digunakan di restoran, kafe, UMKM, pusat perbelanjaan, hingga layanan transportasi.

QRIS memudahkan transaksi karena tidak memerlukan uang kembalian dan prosesnya relatif cepat.

E-Wallet (Dompet Digital)

E-wallet atau dompet digital memungkinkan pengguna menyimpan saldo dalam aplikasi untuk melakukan pembayaran.

Beberapa contoh e-wallet populer di Indonesia antara lain:

  • GoTo (GoPay)
  • OVO
  • DANA
  • Shopee (ShopeePay)

Pengguna cukup mengisi saldo (top up) lalu menggunakan aplikasi untuk membayar di merchant online maupun offline.

Kartu Kredit

Kartu kredit memungkinkan pengguna melakukan pembayaran terlebih dahulu dan membayarnya di kemudian hari sesuai tagihan bulanan.

Metode ini banyak digunakan untuk transaksi online, pembelian tiket, hotel, hingga belanja internasional.

Keunggulan kartu kredit adalah fleksibilitas pembayaran, termasuk opsi cicilan. Namun, pengguna perlu memperhatikan bunga dan biaya tambahan jika tidak melunasi tagihan tepat waktu.

Kartu Debit

Berbeda dengan kartu kredit, kartu debit langsung memotong saldo di rekening pengguna saat transaksi dilakukan.

Metode ini banyak digunakan untuk pembayaran di supermarket, restoran, maupun belanja online.

Keunggulannya:

  • Tidak menimbulkan utang
  • Proses cepat
  • Risiko bunga tidak ada

Baca juga: 4 Perbedaan Kartu Debit dan Kartu Kredit Yang Perlu Diketahui 

Virtual Account (VA)

Virtual Account adalah nomor rekening unik yang dibuat khusus untuk satu transaksi atau satu pelanggan. Metode ini banyak digunakan di marketplace dan platform e-commerce.

Setelah pembeli mentransfer dana ke nomor VA tersebut, sistem akan otomatis mendeteksi dan mengonfirmasi pembayaran tanpa perlu unggah bukti transfer.

PayLater / Buy Now Pay Later (BNPL)

Metode ini memungkinkan pengguna membeli sekarang dan membayar nanti dalam jangka waktu tertentu, baik sekaligus maupun cicilan.

Contoh layanan:

  • Kredivo
  • Akulaku
  • Shopee (Shopee PayLater)

Direct Debit atau Auto Debit

Metode ini memungkinkan dana ditarik secara otomatis dari rekening pelanggan pada waktu yang telah ditentukan sebelumnya.

Biasanya, pelanggan memberikan persetujuan di awal agar sistem dapat melakukan penagihan berkala tanpa perlu konfirmasi ulang setiap bulan.

Direct debit banyak digunakan untuk pembayaran tagihan listrik, air, internet bulanan, asuransi, cicilan, hingga layanan berlangganan seperti platform streaming atau software berbasis subscription.

2. Contoh Payment Tunai

Payment tunai adalah metode pembayaran yang menggunakan uang fisik secara langsung tanpa perantara sistem digital.

Meskipun tren cashless semakin meningkat, pembayaran tunai masih digunakan secara luas dalam berbagai aktivitas ekonomi, terutama untuk transaksi kecil hingga menengah.

Uang fisik

Uang Kertas dan Uang Logam (Rupiah)

https://images.openai.com/static-rsc-3/_5EEh7L7Sx6kin6w320gikrBg5VwMzmFidjPsrxeanf_tBhCb249F7ubmiKopP0mNT5RfBmdfIbXWToiubiRizxI3u0vluDbhpobt6aX9ag?purpose=fullsize&v=1

Ini adalah bentuk pembayaran tunai paling umum. Pembeli menyerahkan uang kertas atau logam secara langsung kepada penjual saat melakukan transaksi di warung, pasar tradisional, minimarket, atau restoran.

Metode ini sederhana dan tidak membutuhkan perangkat tambahan atau koneksi internet.

Cash on Delivery (COD – Bayar Tunai Saat Barang Datang)

Pada metode ini, pembeli melakukan pembayaran secara tunai ketika barang diterima dari kurir.

Meskipun pemesanan dilakukan secara online, pembayaran tetap dilakukan menggunakan uang fisik.

COD populer di marketplace seperti Shopee dan Tokopedia karena memberikan rasa aman bagi pembeli yang ingin memastikan barang diterima sebelum membayar.

Contoh Skenario Transaksi Payment

Untuk memahami bagaimana payment digunakan dalam aktivitas bisnis, berikut beberapa contoh skenario transaksi yang menggambarkan proses pembayaran dari awal hingga selesai.

1. Skenario E-Commerce (Belanja Online)

Seorang pelanggan membeli sepatu melalui marketplace seperti Tokopedia. Setelah memilih produk dan melakukan checkout, sistem menampilkan beberapa metode pembayaran seperti transfer bank, Virtual Account, QRIS, atau e-wallet.

Pelanggan memilih Virtual Account, lalu sistem secara otomatis membuat nomor VA unik untuk transaksi tersebut.

Pelanggan melakukan transfer melalui mobile banking, dan dalam hitungan detik sistem marketplace menerima notifikasi pembayaran berhasil.

Status pesanan berubah menjadi “diproses”, dan penjual mulai menyiapkan barang untuk dikirim.

Dalam skenario ini, proses payment melibatkan:

  • Pembuatan instruksi pembayaran
  • Transfer dana melalui bank
  • Konfirmasi otomatis ke sistem merchant
  • Pencatatan transaksi dalam dashboard

2. Skenario Pembayaran di Restoran (Offline)

Seorang pelanggan makan di restoran dan menerima tagihan sebesar Rp150.000.

Di meja kasir, tersedia QRIS. Pelanggan membuka aplikasi mobile banking, memindai kode QRIS, lalu memasukkan nominal pembayaran.

Setelah transaksi dikonfirmasi dengan PIN atau biometrik, dana langsung terpotong dari rekening pelanggan.

Sistem kasir menerima notifikasi bahwa pembayaran berhasil, dan struk dicetak sebagai bukti transaksi.

Dalam skenario ini:

  • Pembeli menginisiasi pembayaran via QR
  • Sistem bank memverifikasi saldo
  • Dana diproses melalui jaringan pembayaran
  • Merchant menerima notifikasi real-time

3. Skenario Subscription (Auto-Debit)

Seorang pelanggan berlangganan layanan streaming dengan biaya Rp100.000 per bulan. Saat pertama kali mendaftar, pelanggan memasukkan detail kartu debit dan menyetujui auto debit.

Setiap bulan, sistem secara otomatis menagih biaya langganan tanpa perlu tindakan manual dari pelanggan.

Jika saldo mencukupi, pembayaran berhasil dan layanan tetap aktif. Jika gagal, pelanggan akan menerima notifikasi untuk memperbarui metode pembayaran.

Skenario ini menunjukkan bagaimana payment dapat berjalan secara otomatis dan terjadwal.

Cara Memilih Metode Payment yang Sesuai untuk Bisnis Anda

Dalam memilih metode payment yang tepat, Anda perlu menyesuaikan sistem pembayaran dengan karakteristik operasional dan perilaku pelanggan.

Pasalnya, setiap model bisnis memiliki kebutuhan berbeda, baik dari sisi volume transaksi, nominal pembayaran, hingga pola pembelian.

Berikut tiga hal utama yang perlu dipertimbangkan saat menentukan metode payment yang paling sesuai.

1. Pahami Karakteristik Pelanggan dan Kebiasaan Transaksi

Langkah pertama adalah memahami siapa target pasar Anda dan bagaimana mereka biasa melakukan pembayaran.

Misalnya, bisnis yang menyasar generasi muda dan aktif secara digital kemungkinan besar perlu menyediakan e-wallet, QRIS, atau PayLater karena metode tersebut lebih praktis dan familiar bagi segmen ini.

Sebaliknya, jika pelanggan Anda berada di wilayah dengan akses digital terbatas, pembayaran tunai atau transfer bank manual mungkin masih dominan.

Untuk bisnis ritel offline, menyediakan QRIS dari standar yang ditetapkan Bank Indonesia dapat menjadi pilihan strategis karena memungkinkan pelanggan membayar menggunakan berbagai aplikasi hanya dengan satu kode QR.

Sementara itu, bisnis B2B dengan nominal transaksi besar biasanya lebih mengandalkan transfer bank atau pembayaran berbasis invoice dengan termin tertentu.

Intinya, metode payment harus mengikuti preferensi pelanggan agar tidak menghambat proses checkout dan mengurangi potensi penjualan.

2. Sesuaikan dengan Model Operasional dan Channel Penjualan

Model bisnis sangat memengaruhi jenis payment yang dibutuhkan. Jika Anda menjalankan e-commerce atau platform digital, menggunakan payment gateway menjadi solusi strategis.

Payment gateway memungkinkan bisnis menerima berbagai metode pembayaran, seperti kartu debit/kredit, Virtual Account, e-wallet, hingga QRIS dalam satu sistem terintegrasi.

Dengan payment gateway, proses konfirmasi pembayaran dapat berlangsung otomatis melalui notifikasi real-time, sehingga tim operasional tidak perlu memverifikasi transaksi secara manual.

Ini sangat penting untuk bisnis dengan volume transaksi tinggi atau yang berjualan di banyak channel, seperti website sendiri dan marketplace seperti Tokopedia.

Untuk bisnis berbasis subscription, metode auto debit atau kartu yang dapat ditagihkan secara berkala lebih cocok karena memudahkan penagihan rutin.

Sementara itu, UMKM yang berjualan melalui media sosial dapat memanfaatkan payment link agar tetap bisa menerima pembayaran digital tanpa membangun sistem checkout kompleks.

3. Pertimbangkan Biaya, Keamanan, dan Arus Kas

Setiap metode payment memiliki struktur biaya yang berbeda, mulai dari potongan transaksi (MDR), biaya admin, hingga potensi chargeback

Bisnis perlu menghitung apakah biaya tersebut sebanding dengan kemudahan dan potensi peningkatan penjualan.

Selain biaya, faktor keamanan juga krusial. Metode pembayaran yang memiliki sistem verifikasi berlapis dan perlindungan data akan membantu meminimalkan risiko fraud.

Untuk bisnis dengan volume transaksi tinggi, kecepatan settlement juga perlu diperhatikan karena berpengaruh langsung pada arus kas.

Baca juga: 15 Rekomendasi Payment Gateway Terbaik di Indonesia 


Pada akhirnya, dalam memilih metode payment, Anda perlu memastikan seluruh sistem pembayaran berjalan efisien, aman, dan mendukung pertumbuhan bisnis.

Memahami karakteristik pelanggan membantu Anda menawarkan metode yang tepat. Menyesuaikan dengan model operasional bisnis juga memastikan transaksi bisa diproses tanpa hambatan.

Sementara itu, mempertimbangkan biaya, keamanan, dan settlement menjaga arus kas tetap sehat serta meminimalkan risiko.

Namun ketika bisnis mulai berkembang, transaksi meningkat, channel penjualan bertambah, metode pembayaran semakin beragam, tantangannya pun ikut bertambah.

Tanpa sistem terintegrasi, tim operasional harus:

  • Mengecek pembayaran dari berbagai dashboard berbeda
  • Melakukan verifikasi manual
  • Merekap laporan secara terpisah
  • Menghadapi potensi human error dalam rekonsiliasi

Di titik inilah urgensi penggunaan payment gateway seperti Pivot Payment Gateway  menjadi nyata.

Pivot Payment gateway bukan hanya alat untuk menerima pembayaran. Ini adalah fondasi sistem pembayaran bisnis yang menyatukan berbagai metode, mulai dari kartu, Virtual Account, e-wallet, hingga QRIS, dalam satu integrasi, satu dashboard, dan satu alur operasional yang terkontrol.

Dengan Pivot, Anda akan mendapatkan:

  • Integrasi tunggal untuk 25+ metode pembayaran
  • Konfirmasi transaksi real-time tanpa verifikasi manual
  • Dashboard rekonsiliasi terpusat
  • Smart fraud prevention berbasis AI
  • Payout instan 24/7 ke 200+ bank dan e-wallet
  • Sistem aman dengan enkripsi lanjutan dan kepatuhan regulasi

Sebagai perusahaan berlisensi dan diawasi oleh Bank Indonesia, Pivot menghadirkan sistem yang dirancang untuk bisnis yang ingin tumbuh tanpa terhambat kompleksitas teknis.

Semakin besar bisnis Anda, semakin kompleks arus pembayarannya. Tanpa sistem yang tepat, payment bisa menjadi bottleneck

Dengan payment gateway yang terintegrasi, payment justru menjadi akselerator pertumbuhan.

Jika Anda ingin sistem pembayaran yang scalable, aman, dan efisien, saatnya mempertimbangkan Pivot sebagai partner pembayaran bisnis Anda.

Pelajari bagaimana Pivot dapat membantu bisnis Anda mengelola berbagai metode pembayaran secara terintegrasi.


FAQ (Frequently Asked Questions)

Apa perbedaan payment tunai dan non-tunai?

Payment tunai menggunakan uang fisik seperti uang kertas dan logam dalam transaksi langsung. Sementara itu, payment non-tunai memindahkan dana secara digital melalui sistem perbankan atau penyedia layanan pembayaran seperti QRIS, e-wallet, kartu, atau Virtual Account.

Metode non-tunai biasanya lebih cepat dan praktis karena tidak memerlukan uang kembalian. Namun, keduanya tetap relevan tergantung kebutuhan dan kondisi transaksi.

Mengapa bisnis perlu menyediakan lebih dari satu metode payment?

Setiap pelanggan memiliki preferensi pembayaran yang berbeda. Dengan menyediakan berbagai metode seperti QRIS, kartu, transfer bank, dan e-wallet, bisnis dapat mengurangi hambatan saat checkout dan meningkatkan peluang transaksi berhasil.

Semakin fleksibel opsi pembayaran, semakin kecil risiko pelanggan membatalkan pembelian. Diversifikasi metode payment juga membantu menjangkau segmen pasar yang lebih luas.

Apa itu payment gateway dan mengapa penting untuk bisnis?

Payment gateway adalah sistem yang menghubungkan proses pembayaran pelanggan dengan rekening bisnis secara otomatis dan aman.

Dengan payment gateway seperti Pivot, bisnis dapat menerima berbagai metode pembayaran dalam satu integrasi tanpa perlu verifikasi manual. Sistem ini juga membantu dalam rekonsiliasi, pelaporan, serta perlindungan terhadap potensi fraud. Bagi bisnis yang berkembang, payment gateway menjadi pondasi penting untuk efisiensi operasional.

Apakah QRIS wajib untuk bisnis di Indonesia?

QRIS tidak selalu wajib untuk semua jenis bisnis, tetapi sangat direkomendasikan karena menjadi standar nasional pembayaran berbasis QR yang diatur oleh Bank Indonesia.

Dengan satu kode QR, bisnis dapat menerima pembayaran dari berbagai aplikasi bank dan e-wallet. Hal ini mempermudah pelanggan dan memperluas opsi pembayaran tanpa perlu banyak perangkat tambahan.

Bagaimana cara memilih metode payment yang paling tepat?

Pemilihan metode payment harus disesuaikan dengan karakteristik pelanggan, model bisnis, serta struktur biaya dan settlement.

Bisnis dengan transaksi digital tinggi sebaiknya menggunakan payment gateway agar proses lebih otomatis dan terintegrasi. Pertimbangkan juga keamanan, kecepatan pencairan dana, dan kemudahan rekonsiliasi. Sistem yang tepat akan mendukung pertumbuhan tanpa menambah kompleksitas operasional.

Scale Up Banner