7 Perbedaan Payment Gateway dan Payment Aggregator yang Harus Diketahui Bisnis

7 Perbedaan Payment Gateway dan Payment Aggregator yang Harus Diketahui Bisnis
Photo by Shubham Dhage / Unsplash

Payment gateway dan payment aggregator sering dianggap sama karena keduanya sama-sama digunakan untuk memproses pembayaran digital.

Padahal, kedua sistem ini memiliki fungsi yang berbeda dalam ekosistem pembayaran online.

Payment gateway berperan sebagai teknologi yang menghubungkan transaksi antara pelanggan, merchant, dan bank, sedangkan payment aggregator membantu bisnis menerima berbagai metode pembayaran dalam satu platform.

Perbedaan ini penting dipahami agar bisnis dapat memilih solusi pembayaran yang paling sesuai dengan kebutuhan operasionalnya.

Artikel ini akan membahas perbedaan payment gateway dan payment aggregator secara lengkap, mulai dari fungsi, cara kerja, hingga kapan bisnis membutuhkan masing-masing solusi.

Apa Itu Payment Gateway?

Payment gateway adalah teknologi yang memungkinkan bisnis menerima dan memproses pembayaran digital dari pelanggan melalui website, aplikasi, atau platform online lainnya.

Sistem ini berperan sebagai perantara yang menghubungkan pelanggan, merchant, dan bank, sehingga transaksi dapat diproses secara aman.

Ketika pelanggan memasukkan detail pembayaran, seperti kartu kredit, e-wallet, atau transfer bank, payment gateway akan mengamankan data tersebut dengan enkripsi, lalu mengirimkannya ke bank atau penyedia pembayaran untuk diverifikasi.

Setelah proses verifikasi selesai, gateway akan mengirimkan kembali status transaksi kepada merchant, apakah pembayaran berhasil, gagal, atau masih menunggu proses.

Dengan adanya payment gateway, proses pembayaran online dapat berlangsung secara otomatis dalam hitungan detik, tanpa perlu pelanggan melakukan transfer manual atau konfirmasi pembayaran secara terpisah.

Baca juga: 3 Jenis Payment Gateway untuk Bisnis & Cara Memilihnya 

Apa Itu Payment Aggregator?

Payment aggregator adalah perusahaan atau penyedia layanan pihak ketiga yang memungkinkan bisnis menerima berbagai metode pembayaran digital melalui satu platform terintegrasi.

Dengan menggunakan layanan ini, merchant dapat menerima pembayaran seperti kartu debit atau kredit, transfer bank, e-wallet, dan metode pembayaran digital lainnya tanpa perlu membuat integrasi atau membuka akun merchant terpisah di setiap bank atau jaringan pembayaran.

Dalam operasionalnya, payment aggregator mengumpulkan pembayaran dari pelanggan atas nama merchant, memproses transaksi tersebut, lalu menyalurkan dana ke rekening merchant setelah proses settlement selesai.

Model ini mempermudah bisnis, terutama startup dan UMKM, untuk mulai menerima pembayaran online dengan lebih cepat karena mereka tidak perlu menjalin kerja sama langsung dengan banyak bank atau penyedia layanan pembayaran.

Perlu diketahui bahwa banyak platform pembayaran modern menyediakan layanan payment gateway sekaligus payment aggregator dalam satu sistem. Salah satu contohnya adalah platform Pivot.

Artinya, selain mengelola pengumpulan dan penyaluran dana dari berbagai merchant, platform ini juga menyediakan teknologi yang memproses transaksi pembayaran secara aman.

Dengan kemampuan tersebut, payment aggregator mampu menangani berbagai metode pembayaran dalam satu sistem, sehingga memberikan kemudahan dan fleksibilitas bagi bisnis maupun pelanggan dalam ekosistem pembayaran digital yang terus berkembang.

Perbedaan Payment Gateway dan Payment Aggregator

Sekilas, payment gateway dan payment aggregator sering dianggap sama karena keduanya berperan dalam memproses pembayaran digital.

Keduanya juga sering digunakan secara bersamaan dalam sistem pembayaran online, sehingga tidak sedikit orang yang menganggap keduanya sebagai layanan yang sama.

Padahal, payment gateway dan payment aggregator memiliki peran yang berbeda dalam ekosistem pembayaran digital.

Agar lebih mudah dipahami, berikut ringkasan perbedaan utama antara payment gateway dan payment aggregator.

Aspek

Payment Gateway

Payment Aggregator

Peran dalam proses pembayaran

Mengirim dan memverifikasi data transaksi antara merchant dan bank

Mengelola proses pembayaran dari banyak merchant dalam satu platform

Merchant account

Merchant biasanya harus memiliki merchant account sendiri di bank

Merchant menggunakan sub-merchant account di bawah aggregator

Integrasi sistem

Memberikan fleksibilitas integrasi dengan bank atau metode pembayaran tertentu

Menyediakan satu integrasi untuk berbagai metode pembayaran

Pengelolaan dana

Tidak menyimpan dana, hanya memproses dan meneruskan data transaksi

Mengumpulkan dana dari pelanggan lalu menyalurkannya ke merchant

Layanan tambahan

Fokus pada pemrosesan transaksi dan keamanan data

Biasanya menyediakan fitur tambahan seperti dashboard, analytics, dan manajemen pembayaran

Kemudahan setup

Memerlukan konfigurasi dan integrasi yang lebih spesifik

Umumnya lebih cepat diimplementasikan karena sistem sudah terintegrasi

Target pengguna

Cocok digunakan oleh bisnis besar yang membutuhkan kontrol lebih

Cocok untuk UMKM atau startup yang ingin implementasi pembayaran lebih praktis

Regulasi

Berfokus pada standar keamanan teknologi pembayaran

Biasanya memiliki regulasi lebih ketat karena mengelola dana merchant

Setelah melihat gambaran singkatnya, berikut penjelasan lebih detail mengenai setiap perbedaan antara payment gateway dan payment aggregator.

1. Peran dalam Proses Pembayaran

Perbedaan utama antara payment gateway dan payment aggregator terletak pada perannya dalam proses transaksi.

Payment gateway berfungsi sebagai teknologi yang mengirimkan data pembayaran dari merchant ke bank atau penyedia pembayaran untuk diverifikasi.

Gateway memastikan informasi transaksi dapat diproses secara aman menggunakan sistem enkripsi.

Sementara itu, payment aggregator berperan sebagai platform yang mengelola pembayaran dari banyak merchant sekaligus.

Aggregator tidak hanya memproses transaksi, tetapi juga menangani proses onboarding merchant, pengumpulan dana, hingga penyaluran pembayaran ke rekening merchant.

2. Kepemilikan Merchant Account

Perbedaan lain dapat dilihat dari kepemilikan merchant account.

Pada sistem payment gateway, merchant biasanya perlu memiliki merchant account sendiri di bank acquiring. Akun ini digunakan untuk menerima dana hasil transaksi dari pelanggan.

Sebaliknya, pada payment aggregator, merchant tidak perlu membuka merchant account sendiri.

Merchant akan menggunakan sub-merchant account yang berada di bawah akun utama milik aggregator.

3. Integrasi Sistem

Dari sisi teknis, payment gateway dan payment aggregator juga berbeda dalam proses integrasi.

Menggunakan payment gateway sering kali memerlukan integrasi tambahan dengan berbagai bank atau metode pembayaran yang ingin digunakan oleh merchant.

Sementara itu, payment aggregator biasanya menyediakan satu integrasi yang sudah mencakup banyak metode pembayaran, seperti kartu debit/kredit, virtual account, e-wallet, atau QR code.

4. Pengelolaan Dana

Dalam hal pengelolaan dana transaksi, keduanya juga memiliki mekanisme yang berbeda.

Payment gateway tidak menyimpan atau mengelola dana pelanggan. Sistem ini hanya bertugas mengirimkan data pembayaran ke bank untuk diverifikasi.

Sementara itu, payment aggregator akan terlebih dahulu menerima dan mengumpulkan dana dari pelanggan.

Setelah proses settlement selesai, aggregator akan menyalurkan dana tersebut ke rekening merchant sesuai transaksi yang terjadi.

5. Layanan Tambahan

Payment aggregator biasanya menawarkan layanan yang lebih luas dibandingkan payment gateway.

Payment gateway umumnya hanya fokus pada pemrosesan transaksi dan keamanan data pembayaran.

Sebaliknya, payment aggregator sering menyediakan berbagai fitur tambahan, seperti dashboard transaksi, analitik pembayaran, manajemen refund, hingga sistem deteksi fraud.

6. Kemudahan Setup dan Target Pengguna

Perbedaan lainnya terletak pada kemudahan implementasi dan target pengguna.

Penggunaan payment gateway biasanya memerlukan proses setup yang lebih kompleks, karena merchant perlu mengatur integrasi teknis dan membuka merchant account sendiri. 

Oleh karena itu, solusi ini lebih sering digunakan oleh perusahaan besar atau enterprise.

Sementara itu, payment aggregator dirancang agar proses implementasinya lebih cepat dan sederhana.

Layanan ini umumnya lebih cocok bagi UMKM, startup, atau bisnis yang ingin segera menerima pembayaran online tanpa proses integrasi yang rumit.

7. Regulasi dan Kepatuhan

Dalam hal regulasi, payment aggregator biasanya memiliki kewajiban kepatuhan yang lebih ketat dibandingkan payment gateway.

Hal ini karena payment aggregator secara langsung mengelola aliran dana dari pelanggan sebelum diteruskan ke merchant.

Oleh sebab itu, penyedia layanan aggregator biasanya harus memenuhi berbagai regulasi terkait pengelolaan dana, keamanan transaksi, serta proses verifikasi merchant.

Sementara itu, payment gateway lebih berfokus pada kepatuhan terhadap standar keamanan teknologi pembayaran, seperti enkripsi data dan perlindungan informasi transaksi pelanggan.

Baca juga: Payment Processor: Pengertian, Fitur Utama & Perbedaannya dengan Payment Gateway 

Bagaimana Payment Gateway dan Payment Aggregator Saling Melengkapi

Meskipun memiliki peran yang berbeda, payment gateway dan payment aggregator sebenarnya saling melengkapi dalam ekosistem pembayaran digital.

Keduanya bekerja bersama untuk memastikan proses transaksi online dapat berjalan dengan cepat, aman, dan efisien bagi merchant maupun pelanggan.

Dalam sebuah transaksi digital, payment gateway biasanya berperan sebagai teknologi yang memproses dan mengirimkan data pembayaran dari pelanggan ke bank atau penyedia layanan pembayaran.

Sistem ini memastikan informasi transaksi dapat diverifikasi dengan aman melalui proses enkripsi dan otorisasi.

Di sisi lain, payment aggregator menyediakan platform yang memungkinkan merchant menerima berbagai metode pembayaran dalam satu sistem.

Aggregator juga menangani proses seperti merchant onboarding, pengelolaan transaksi, hingga proses settlement dana ke rekening merchant.

Sebagai ilustrasi sederhana, ketika pelanggan melakukan pembayaran di sebuah website atau aplikasi, prosesnya dapat berlangsung seperti berikut:

  1. Pelanggan memilih produk atau layanan lalu melakukan checkout.
  2. Sistem pembayaran menggunakan payment gateway untuk memproses data transaksi pelanggan.
  3. Data transaksi dikirimkan ke bank atau penyedia pembayaran untuk diverifikasi.
  4. Setelah transaksi disetujui, dana akan diproses melalui sistem payment aggregator.
  5. Aggregator kemudian menyalurkan dana tersebut ke rekening merchant sesuai jadwal settlement.

Melalui kerja sama tersebut, payment gateway berfungsi memastikan proses transaksi berlangsung secara teknis dan aman, sementara payment aggregator membantu merchant mengelola berbagai metode pembayaran dan aliran dana dalam satu platform.

Kombinasi keduanya membuat bisnis dapat menerima pembayaran digital dengan lebih mudah sekaligus memberikan pengalaman pembayaran yang lebih praktis bagi pelanggan.

Kapan Bisnis Membutuhkan Payment Gateway dan Payment Aggregator?

Dalam praktiknya, tidak semua bisnis membutuhkan sistem pembayaran yang sama. Kebutuhan penggunaan payment gateway atau payment aggregator biasanya bergantung pada skala bisnis, kompleksitas sistem pembayaran, serta jumlah metode pembayaran yang ingin disediakan kepada pelanggan.

Secara umum, kedua solusi ini digunakan untuk membantu bisnis menerima pembayaran digital secara lebih efisien.

Namun, ada situasi tertentu di mana bisnis lebih cocok menggunakan payment gateway, payment aggregator, atau kombinasi keduanya.

Saat Bisnis Membutuhkan Payment Gateway

Payment gateway biasanya lebih cocok digunakan oleh bisnis yang membutuhkan kontrol lebih besar terhadap sistem pembayaran mereka.

Solusi ini sering dipilih oleh perusahaan yang memiliki infrastruktur teknologi sendiri atau ingin mengatur integrasi pembayaran secara lebih fleksibel.

Beberapa kondisi ketika bisnis membutuhkan payment gateway antara lain:

  • Bisnis memiliki volume transaksi yang tinggi
  • Perusahaan ingin memiliki kontrol lebih besar terhadap sistem pembayaran
  • Bisnis sudah memiliki merchant account sendiri di bank acquiring
  • Perusahaan membutuhkan integrasi pembayaran yang lebih fleksibel dengan sistem internal
  • Bisnis skala menengah hingga enterprise yang memiliki tim teknis untuk mengelola integrasi

Dengan menggunakan payment gateway, perusahaan dapat menyesuaikan sistem pembayaran sesuai kebutuhan operasional dan skala bisnis.

Saat Bisnis Membutuhkan Payment Aggregator

Sementara itu, payment aggregator biasanya lebih cocok untuk bisnis yang ingin mulai menerima pembayaran digital dengan proses integrasi yang lebih sederhana.

Layanan ini memungkinkan merchant menerima berbagai metode pembayaran tanpa harus mengurus kerja sama dengan banyak bank atau penyedia pembayaran secara terpisah.

Beberapa kondisi ketika bisnis membutuhkan payment aggregator antara lain:

  • Bisnis baru mulai menerima pembayaran online
  • Startup atau UMKM yang ingin implementasi pembayaran dengan cepat
  • Bisnis ingin menyediakan banyak metode pembayaran dalam satu integrasi
  • Perusahaan tidak memiliki tim teknis khusus untuk mengelola sistem pembayaran
  • Merchant ingin fokus pada operasional bisnis tanpa harus mengelola sistem pembayaran yang kompleks

Dengan menggunakan payment aggregator, bisnis dapat menerima berbagai metode pembayaran secara praktis melalui satu platform terintegrasi.

Menggunakan Keduanya dalam Sistem Pembayaran

Dalam praktiknya, banyak bisnis modern tidak hanya menggunakan salah satu solusi saja. 

Saat ini, banyak penyedia layanan pembayaran menggabungkan fungsi payment gateway dan payment aggregator dalam satu platform agar merchant dapat mengelola transaksi secara lebih praktis.

Pada skema ini, payment gateway dan payment aggregator bekerja di bagian yang berbeda dalam alur transaksi.

Payment gateway bertugas memproses dan mengirimkan data transaksi dari pelanggan ke bank atau penyedia pembayaran untuk proses verifikasi.

Sementara itu, payment aggregator berperan dalam mengelola penerimaan pembayaran dari berbagai merchant, termasuk proses pencatatan transaksi dan penyaluran dana ke rekening merchant setelah proses settlement.

Salah satu platform yang menggabungkan kemampuan payment gateway dan payment aggregator dalam satu ekosistem adalah Pivot.

Pivot menghadirkan solusi pembayaran terintegrasi yang menggabungkan fungsi payment gateway dan payment aggregator dalam satu platform, sehingga bisnis dapat mengelola seluruh siklus pembayaran–mulai dari penerimaan dana hingga pengelolaan arus kas–tanpa kompleksitas integrasi yang terpisah.

Dengan satu integrasi, Pivot memungkinkan bisnis untuk mengelola berbagai kebutuhan pembayaran dan keuangan sekaligus.

Beberapa kapabilitas utama yang ditawarkan antara lain:

  • menerima lebih dari 25 metode pembayaran lokal dan internasional
  • integrasi payment dan refund melalui satu sistem
  • optimasi otorisasi transaksi dengan sistem routing pembayaran yang cerdas
  • sistem pencegahan fraud berbasis AI dan pemantauan transaksi 24/7
  • fitur payout instan ke lebih dari 200 bank, virtual account, dan e-wallet di Indonesia
  • pengiriman ribuan transaksi payout sekaligus dalam satu klik
  • manajemen akun dan saldo dalam satu dashboard terintegrasi
  • rekonsiliasi transaksi secara real-time
  • pengaturan aliran dana antar akun secara otomatis
  • integrasi wallet yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan platform

Selain itu, Pivot juga mengutamakan keamanan dan kepatuhan regulasi melalui sistem enkripsi tingkat lanjut, tokenisasi data, serta autentikasi berlapis untuk melindungi setiap transaksi.

Dengan dukungan teknologi pembayaran yang fleksibel serta integrasi yang cepat, Pivot membantu bisnis menyederhanakan operasional pembayaran sekaligus mempercepat pertumbuhan bisnis di era ekonomi digital.

Dengan menggabungkan fleksibilitas payment gateway dan kemudahan payment aggregator dalam satu platform, Pivot membantu bisnis menyederhanakan kompleksitas pembayaran, meningkatkan efisiensi operasional, dan mempercepat pertumbuhan di era digital.

FAQ Seputar Perbedaan Payment Gateway dan Payment Aggregator

Apakah payment gateway dan payment aggregator bisa digunakan bersamaan?

Ya, dalam banyak sistem pembayaran digital, payment gateway dan payment aggregator sering digunakan secara bersamaan.

Payment gateway berfungsi memproses dan memverifikasi data transaksi antara merchant dan bank. Sementara itu, payment aggregator membantu merchant menerima berbagai metode pembayaran melalui satu platform terintegrasi. Kombinasi keduanya memungkinkan bisnis menerima pembayaran digital dengan lebih mudah dan efisien.

Apakah UMKM perlu menggunakan payment gateway?

Tidak semua UMKM membutuhkan payment gateway secara langsung. Banyak bisnis kecil lebih memilih menggunakan payment aggregator karena proses integrasinya lebih sederhana dan cepat.

Dengan aggregator, merchant dapat menerima berbagai metode pembayaran tanpa perlu membuka merchant account di setiap bank. Namun, bisnis dengan kebutuhan sistem pembayaran yang lebih kompleks mungkin tetap memerlukan payment gateway.

Apakah bisnis harus memilih salah satu antara payment gateway atau payment aggregator?

Tidak selalu. Beberapa bisnis menggunakan salah satu solusi saja, sementara yang lain menggunakan keduanya sekaligus.

Payment gateway biasanya digunakan oleh perusahaan yang membutuhkan kontrol lebih besar terhadap sistem pembayaran. Di sisi lain, payment aggregator lebih cocok bagi bisnis yang ingin menerima berbagai metode pembayaran dengan integrasi yang lebih cepat.

Apakah payment aggregator aman digunakan untuk bisnis?

Ya, selama menggunakan penyedia layanan yang memiliki izin resmi dan mematuhi standar keamanan industri.

Payment aggregator biasanya menerapkan sistem keamanan seperti enkripsi data, perlindungan fraud, dan verifikasi merchant untuk menjaga keamanan transaksi. Selain itu, beberapa negara juga mengatur aktivitas payment aggregator melalui regulasi dari otoritas keuangan.

Bisnis seperti apa yang cocok menggunakan payment aggregator?

Payment aggregator umumnya cocok untuk startup, UMKM, atau bisnis yang baru mulai menerima pembayaran online.

Dengan aggregator, merchant tidak perlu membuka merchant account terpisah di bank atau melakukan integrasi kompleks dengan banyak penyedia pembayaran. Hal ini memungkinkan bisnis menerima berbagai metode pembayaran seperti kartu, transfer bank, atau e-wallet melalui satu platform.

Scale Up Banner