10 Perbedaan QRIS Statis vs Dinamis, Pemilik Usaha Wajib Paham!
Penggunaan QRIS kini semakin umum di berbagai jenis usaha, mulai dari warung kecil hingga bisnis multi-cabang.
Namun, masih banyak pemilik usaha yang belum memahami perbedaan QRIS statis vs dinamis secara menyeluruh.
Padahal, memilih jenis QRIS yang tepat dapat berdampak pada efisiensi operasional, keamanan transaksi, dan kemudahan pencatatan keuangan.
Lantas, mana yang sebenarnya lebih sesuai dan menguntungkan untuk bisnis Anda? Artikel ini akan membahas 10 perbedaan QRIS statis vs dinamis secara lengkap agar Anda bisa menentukan pilihan terbaik.
Apa Itu QRIS?
QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) adalah standar kode QR nasional untuk pembayaran digital di Indonesia yang dikembangkan oleh Bank Indonesia bersama Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI).
QRIS menyatukan berbagai metode pembayaran berbasis QR, mulai dari mobile banking hingga dompet digital (e-wallet), ke dalam satu kode yang bisa dipindai oleh semua aplikasi yang mendukung standar ini.
Dengan konsep “satu QR untuk semua pembayaran”, QRIS memudahkan transaksi non-tunai menjadi lebih cepat, praktis, dan efisien bagi konsumen maupun pelaku usaha.
Dalam implementasinya, terdapat dua jenis QRIS, yaitu QRIS Statis dan QRIS Dinamis.
QRIS statis adalah jenis QRIS dengan satu kode tetap yang bisa digunakan berulang kali untuk berbagai transaksi.
Biasanya kode ini dicetak dan ditempel di meja kasir, sehingga pelanggan perlu memasukkan nominal pembayaran secara manual setelah memindai.
Sementara itu, QRIS dinamis adalah QRIS yang menghasilkan kode berbeda untuk setiap transaksi, dengan nominal yang sudah otomatis tercantum di dalamnya. Sistem akan membuat QR baru setiap kali kasir memasukkan total belanja.
Sebagai contoh QRIS dinamis, di restoran cepat saji kasir memasukkan total pembayaran ke sistem POS, lalu QR dengan nominal tersebut langsung muncul di layar untuk dipindai pelanggan. Setelah dibayar, transaksi otomatis tercatat sebagai lunas di sistem.
Perbedaan QRIS Statis dan Dinamis
Sebelumnya telah dijelaskan bahwa QRIS memiliki dua jenis utama, yaitu QRIS Statis dan QRIS Dinamis.
Keduanya sama-sama memudahkan transaksi non-tunai, tetapi memiliki karakteristik dan mekanisme yang berbeda dalam praktiknya.
Lantas, mana yang paling cocok untuk bisnis Anda? Apakah QRIS Statis yang sederhana dan mudah digunakan, atau QRIS Dinamis yang lebih otomatis dan terintegrasi?
Sebelum menentukan pilihan, penting untuk memahami terlebih dahulu apa saja aspek-aspek perbedaan antara keduanya.
Dengan mengetahui aspek seperti keamanan, pencatatan transaksi, kecepatan pembayaran, hingga kesesuaian dengan skala usaha, Anda bisa memilih solusi QRIS yang paling tepat untuk kebutuhan operasional bisnis.
1. Sifat Kode QR
Perbedaan QRIS statis vs dinamis yang paling mendasar terletak pada sifat kode yang digunakan.
QRIS Statis menggunakan satu kode QR yang sama untuk semua transaksi. Artinya, kode tersebut tidak berubah dan bisa dipakai berulang kali oleh pelanggan yang berbeda.
Sebaliknya, QRIS Dinamis menghasilkan kode unik untuk setiap transaksi. Setiap kali terjadi pembayaran, sistem akan membuat QR baru yang hanya berlaku untuk transaksi tersebut.
2. Masa Berlaku Kode
QRIS Statis tidak memiliki masa kedaluwarsa selama akun merchant aktif. Kode yang dicetak bisa digunakan terus-menerus.
Sementara itu, QRIS Dinamis memiliki masa berlaku terbatas. Kode biasanya hanya aktif dalam jangka waktu tertentu atau hingga pembayaran selesai dilakukan. Setelah itu, kode tidak bisa digunakan kembali.
3. Input Nominal
Pada QRIS Statis, pelanggan harus memasukkan nominal pembayaran secara manual setelah memindai kode.
Misalnya, seorang pelanggan makan di warung dengan total tagihan Rp47.500. Setelah memindai QRIS Statis yang terpajang di meja kasir, pelanggan perlu mengetik sendiri angka Rp47.500 di aplikasi pembayaran sebelum menekan tombol bayar.
Karena nominal pada QRIS Statis diketik oleh pelanggan, terdapat risiko kesalahan input, baik kurang bayar maupun lebih bayar.
Contohnya, pelanggan bisa saja tidak sengaja mengetik Rp4.750 atau Rp475.000. Jika kasir tidak teliti memeriksa notifikasi pembayaran, selisih nominal ini bisa menyebabkan kerugian atau kerepotan dalam proses pengembalian dana.
Sebaliknya, QRIS Dinamis sudah menyematkan nominal transaksi secara otomatis di dalam kode QR, sehingga pelanggan cukup melakukan konfirmasi pembayaran.
Sebagai contoh, di restoran cepat saji, kasir memasukkan total belanja Rp47.500 ke dalam sistem POS.
Sistem kemudian langsung menghasilkan QRIS Dinamis dengan nominal tersebut. Saat pelanggan memindai kode, angka Rp47.500 sudah muncul otomatis di aplikasi pembayaran dan tidak bisa diubah. Dengan mekanisme ini, pelanggan cukup melakukan konfirmasi dan memasukkan PIN.
Jadi, risiko salah input nominal hampir tidak ada karena nominal sudah terintegrasi dengan sistem kasir dan tidak bisa diubah oleh pelanggan.
4. Notifikasi Pembayaran
Perbedaan berikutnya terletak pada mekanisme notifikasi pembayaran yang diterima merchant.
Pada QRIS Statis, notifikasi pembayaran biasanya masuk melalui aplikasi merchant atau mutasi rekening.
Kasir harus secara aktif mengecek apakah dana sudah benar-benar masuk dan memastikan nominal sesuai dengan tagihan.
Dalam kondisi ramai, ada potensi kasir melewatkan notifikasi atau salah membaca nominal jika tidak teliti.
Sementara itu, pada QRIS Dinamis, notifikasi pembayaran umumnya terintegrasi langsung dengan sistem kasir (POS).
Begitu pelanggan membayar, sistem otomatis menandai transaksi sebagai “lunas” di layar kasir.
Jadi, kasir tidak perlu lagi mencocokkan nominal secara manual karena sistem sudah menghubungkan pembayaran dengan transaksi yang spesifik.
5. Tingkat Keamanan & Potensi Fraud
Dari sisi keamanan, QRIS Dinamis umumnya lebih unggul karena setiap kode bersifat unik dan hanya berlaku untuk satu transaksi. Hal ini membuatnya lebih sulit disalahgunakan atau dipalsukan.
Sebaliknya, QRIS Statis lebih rentan karena menggunakan kode yang sama secara terus-menerus.
Ada potensi risiko fraud, seperti kode diganti atau ditempel QR palsu oleh pihak tidak bertanggung jawab.
Karena tampilannya tetap, merchant perlu rutin memeriksa keaslian kode untuk memastikan tidak terjadi penyalahgunaan.
6. Pencatatan Transaksi
Dalam QRIS Statis, pencatatan transaksi sering kali dilakukan dengan mengecek notifikasi pembayaran atau mutasi rekening secara manual. Hal ini bisa menyulitkan jika transaksi banyak.
Di sisi lain, QRIS Dinamis biasanya terhubung dengan sistem yang langsung mencatat detail transaksi secara otomatis, termasuk nominal dan waktu pembayaran.
7. Kemudahan Rekonsiliasi
Rekonsiliasi adalah proses mencocokkan data penjualan dengan uang yang benar-benar masuk ke rekening.
Pada QRIS Dinamis, proses ini lebih mudah karena setiap transaksi punya kode unik dan langsung tercatat di sistem kasir. Jadi, saat mengecek laporan harian, data penjualan dan pembayaran sudah otomatis cocok.
Sementara itu, pada QRIS Statis, pencocokan biasanya dilakukan secara manual. Merchant perlu membandingkan catatan penjualan dengan mutasi rekening satu per satu.
Jika ada selisih nominal atau kesalahan pencatatan, proses pengecekan bisa memakan waktu lebih lama.
8. Integrasi dengan Sistem POS
QRIS Statis biasanya berdiri sendiri dan tidak terhubung langsung dengan sistem kasir digital.
Penjual umumnya hanya menampilkan foto atau cetakan kode QR di meja kasir atau etalase untuk dipindai pelanggan. Jenis ini cukup praktis karena hanya perlu dicetak tanpa perangkat tambahan.
Sebaliknya, QRIS Dinamis sudah terintegrasi dengan sistem POS. Saat kasir memasukkan total belanja, sistem otomatis membuat QR sesuai nominal dan langsung menandai transaksi sebagai lunas setelah pembayaran.
Namun, QRIS Dinamis memerlukan perangkat seperti smartphone, tablet, atau mesin kasir digital untuk menghasilkan kode secara real-time.
9. Kecepatan Transaksi
Pada QRIS Dinamis, pelanggan cukup memindai kode dan langsung mengonfirmasi pembayaran karena nominal sudah otomatis.
Proses ini membuat transaksi terasa lebih cepat dan praktis. Sistem ini juga lebih efisien untuk bisnis dengan antrean panjang karena meminimalkan kesalahan input.
Sebaliknya, pada QRIS Statis pelanggan perlu memasukkan nominal secara manual sehingga prosesnya sedikit lebih lama.
Dalam kondisi ramai, langkah tambahan ini bisa memperpanjang antrean dan terasa kurang praktis.
10. Biaya & Kompleksitas Implementasi
Dari sisi implementasi, QRIS Statis lebih sederhana dan minim biaya karena tidak membutuhkan sistem tambahan.
Hal ini berbeda dengan QRIS Dinamis yang mungkin memerlukan investasi pada aplikasi kasir atau perangkat pendukung.
Mana yang Paling Sesuai dan Untung untuk Bisnis?
Setelah memahami berbagai perbedaannya, berikut ringkasan perbandingan QRIS statis vs dinamis agar lebih mudah menentukan pilihan:
Lantas, lebih baik QRIS statis atau dinamis?
Tidak ada jawaban yang benar-benar “lebih baik” secara mutlak. Semuanya kembali pada kebutuhan dan skala bisnis Anda.
- Jika bisnis Anda masih skala mikro atau kecil, seperti warung, kedai rumahan, pedagang pasar, atau usaha dengan transaksi tidak terlalu ramai, maka QRIS Statis sudah cukup memadai. Biayanya rendah, mudah digunakan, dan tidak membutuhkan perangkat tambahan.
- Jika bisnis Anda memiliki transaksi cukup ramai, seperti restoran cepat saji, retail, supermarket, atau memiliki beberapa cabang, maka QRIS Dinamis lebih menguntungkan. Proses pembayaran lebih cepat, pencatatan otomatis, rekonsiliasi lebih mudah, dan risiko kesalahan maupun fraud lebih kecil.
- Jika Anda ingin bisnis lebih rapi secara operasional dan siap berkembang, QRIS Dinamis juga lebih mendukung skalabilitas karena sudah terintegrasi dengan sistem kasir dan laporan penjualan.
Cara Membuat QRIS Statis
QRIS dikelola dan diawasi oleh Bank Indonesia, tetapi pendaftarannya dilakukan melalui Penyedia Jasa Pembayaran (PJP) seperti bank atau fintech yang telah berizin.
Berikut langkah umum membuat QRIS Statis:
- Pilih PJP resmi. Daftar melalui bank (misalnya BRI, BCA, Mandiri) atau aplikasi payment/fintech yang menyediakan layanan QRIS Merchant.
- Siapkan dokumen usaha. Umumnya diperlukan KTP pemilik, NPWP (jika ada), nomor rekening usaha, dan dokumen legalitas usaha (NIB/SIUP untuk badan usaha).
- Isi formulir pendaftaran merchant. Bisa dilakukan secara online melalui aplikasi atau datang ke cabang bank.
- Proses verifikasi & approval. PJP akan melakukan verifikasi data usaha. Jika disetujui, merchant akan mendapatkan QRIS resmi.
- Cetak dan pajang QRIS. QRIS Statis biasanya diberikan dalam bentuk file digital atau stiker cetak. Merchant cukup menempelkannya di meja kasir atau area pembayaran.
- Setelah aktif, QRIS Statis bisa langsung digunakan untuk menerima pembayaran dari berbagai aplikasi mobile banking dan dompet digital yang mendukung QRIS.
Baca juga: Cara Membuat QRIS All Payment Gratis untuk Bisnis beserta Syaratnya
Cara Membuat QRIS Dinamis
Proses awal pendaftaran QRIS Dinamis sebenarnya sama karena tetap melalui PJP resmi yang diawasi oleh Bank Indonesia. Namun, ada tambahan kebutuhan integrasi sistem.
Berikut langkah umumnya:
- Daftar sebagai merchant QRIS melalui PJP. Sama seperti QRIS Statis, siapkan dokumen usaha dan lakukan registrasi.
- Gunakan sistem yang mendukung QRIS Dinamis. Merchant perlu menggunakan aplikasi kasir (POS) atau platform pembayaran yang bisa menghasilkan QR otomatis per transaksi.
- Integrasi sistem pembayaran. PJP atau penyedia POS akan menghubungkan sistem kasir dengan akun QRIS merchant agar nominal transaksi bisa otomatis masuk ke dalam QR.
- Uji coba transaksi. Biasanya dilakukan testing untuk memastikan QR muncul sesuai nominal dan notifikasi pembayaran terhubung ke sistem.
- Aktif dan siap digunakan. Saat kasir memasukkan total belanja, sistem langsung membuat QR unik. Setelah pelanggan membayar, transaksi otomatis tercatat sebagai lunas.
Memilih antara QRIS statis dan dinamis memang penting, tetapi dalam praktiknya, tantangan bisnis tidak berhenti di tahap menerima pembayaran saja.
Seiring meningkatnya volume transaksi, bertambahnya kanal penjualan (mulai dari offline, website, hingga aplikasi), serta makin beragamnya metode pembayaran yang digunakan pelanggan, kompleksitas pengelolaan transaksi pun ikut meningkat.
Di titik ini, bisnis tidak hanya membutuhkan metode pembayaran seperti QRIS, tetapi juga sistem yang mampu mengelola seluruh alur pembayaran secara terpusat, mulai dari penerimaan transaksi, monitoring, settlement, hingga proses refund and payout.
Tanpa sistem yang terintegrasi, tim finance harus memantau banyak dashboard berbeda, mencocokkan settlement secara manual, serta menangani refund dan payout secara terpisah.
Proses seperti ini tidak hanya memakan waktu, tetapi juga berisiko menimbulkan human error.
Di sinilah solusi payment gateway terintegrasi seperti Pivot menjadi relevan. Pivot membantu bisnis menerima dan mengelola berbagai metode pembayaran, termasuk QRIS, Virtual Account, kartu kredit/debit, dan 25+ metode pembayaran lokal maupun internasional, melalui satu integrasi API yang terstandarisasi.
Dengan Pivot, Anda akan mendapatkan:
- Single integration untuk pembayaran dan refund
- Smart routing untuk optimasi tingkat keberhasilan transaksi
- Sistem deteksi fraud berbasis AI dengan monitoring 24/7
- Dashboard terpusat untuk monitoring transaksi dan settlement
- Dukungan payout instan ke 200+ bank dan e-wallet di Indonesia
- Integrasi omnichannel (web, mobile app, dan in-person)
Pivot juga berizin dan diawasi oleh Bank Indonesia, serta tersertifikasi PCI DSS dan ISO 27001, sehingga keamanan transaksi tetap terjaga.
Jika bisnis Anda sudah menggunakan QRIS atau berencana memperluas penggunaannya, Pivot juga menghadirkan ScaleUp Program yang dapat membantu mengoptimalkan biaya transaksi.
Melalui program ini, bisnis berkesempatan mendapatkan subsidi biaya transaksi payment dan payout hingga Rp1,5 miliar selama 1 tahun, termasuk untuk transaksi QRIS yang semakin banyak digunakan pelanggan saat ini.
Program ini tersedia dalam waktu terbatas hingga 31 Maret 2026. Hubungi tim sales Pivot untuk mempelajari ScaleUp Program dan solusi pembayaran yang paling sesuai untuk bisnis Anda!
FAQ Seputar QRIS Statis dan Dinamis
Kapan dana QRIS statis masuk ke rekening merchant?
Waktu pencairan dana QRIS statis umumnya mengikuti kebijakan Penyedia Jasa Pembayaran (PJP) yang digunakan.
Biasanya, dana masuk dalam skema H+0 (real-time) atau H+1 hari kerja. Namun, beberapa bank atau penyedia layanan bisa memiliki kebijakan settlement yang berbeda. Untuk memastikan, sebaiknya merchant mengecek langsung ketentuan dari PJP tempat mendaftar.
Berapa kali QR pada QRIS statis dapat digunakan?
QRIS statis dapat digunakan berkali-kali tanpa batas selama akun merchant masih aktif.
Karena menggunakan satu kode tetap, pelanggan yang berbeda bisa memindai QR yang sama untuk transaksi yang berbeda. Inilah yang membuat QRIS statis praktis untuk usaha kecil.
Apa perbedaan utama antara QRIS, MPM statis, dan MPM dinamis?
QRIS adalah standar nasional pembayaran QR yang ditetapkan Bank Indonesia. Sementara itu, MPM (Merchant Presented Mode) adalah metode penyajian QR oleh merchant kepada pelanggan.
MPM Statis berarti merchant menampilkan satu QR tetap yang digunakan berulang kali. MPM Dinamis berarti QR dibuat khusus untuk setiap transaksi dengan nominal otomatis. Jadi, QRIS adalah standarnya, sedangkan MPM statis dan dinamis adalah cara implementasinya di lapangan.
Apakah QRIS dinamis lebih aman dibanding QRIS statis?
Secara umum, QRIS dinamis lebih aman karena setiap transaksi memiliki kode unik dan hanya berlaku satu kali. Hal ini mengurangi risiko penyalahgunaan atau penempelan QR palsu.
Sementara itu, QRIS statis lebih rentan jika kode tidak diawasi secara rutin, karena tampilannya tetap dan bisa saja diganti oleh pihak tidak bertanggung jawab.
Apakah UMKM wajib menggunakan QRIS dinamis?
Tidak. UMKM tidak wajib menggunakan QRIS dinamis. QRIS statis sudah cukup untuk usaha dengan transaksi sederhana dan volume tidak terlalu tinggi.
Namun, jika bisnis mulai ramai atau membutuhkan pencatatan otomatis yang lebih rapi, QRIS dinamis bisa menjadi pilihan yang lebih efisien.